GEN Z SUSAH MENABUNG, APAKAH PENYEBABNYA?

Generasi Z atau biasa kita katakana Gen Z merupakan orang yang lahir tahun 1997-2012 dengan perkiraan usia saat ini 8-23 tahun. Berdasarkan Badan Pusat Statistik tahun 2020 mencatat jumlah penduduk di Indonesia sebanyak 270.203.917 juta orang. Jumlah penduduk Indonesia didominasi yang lahir tahun 1997-2012 dan berusia 8-23 tahun adalah generasi Z atau biasa dikatakan Gen-Z sebanyak 71.509.082 juta orang. 

Gen Z merupakan generasi pertama yang sejak dini terpapar teknologi ; teknologi ini termasuk komputer atau media elektronik lainnya, seperti ponsel, jaringan internet, dan aplikasi media sosial sehingga berbeda dengan generasi lainnya.

Hal ini yang menyebab kan Gen Z yang sering dikenal generasi paling boros dan konsumtif dengan pengeluaran yang tidak efisien. Padahal hampir sebagaian Gen Z mengetahui cara mengelola keuangan, namun mereka susah untuk mengontrol dirinya sendiri sehingga sulit untuk menabung dan investasi

Sedangkan kata menabung dan investasi sudah tidak asing lagi bagi kalangan Gen Z tetapi mereka lebih mementingkan kebutuhan konsumtif sehingga merelakan tabungan nya untuk membeli barang tersebut.

Menabung adalah menyisihkan sebagian pendapatan untuk kebutuhan di masa yang akan datang sedangkan investasi adalah suatu kegiatan menanamkan modal atau pembelian saham dan surat berharga untuk memperoleh keuntungan.

Terdapat beberapa penyebab Gen Z sulit untuk melakukan menabung :

1. Faktor Sosial

Generasi muda selalu menemukan tren terkini seperti FOMO (Fear of Missing Out) adalah istilah yang mengacu pada rasa takut yang dirasakan seseorang ketika mereka tidak mengikuti atau terlibat dalam suatu kegiatan atau aktivitas sehingga mereka merasa "tertinggal". Dan YOLO (You Only Live Once) adalah istilah yang pada awalnya berarti bahwa kita harus berani mengambil risiko dan memanfaatkan setiap kesempatan yang ada dalam kehidupan kita karena kita hanya hidup sekali.

Hal ini yang sedang ramai di media sosial, dan menjadi rintangan bagi generasi sandwich untuk mengatur keuangannya dengan lebih bijak lagi.

Padahal, generasi muda lebih cenderung mengetahui apa saja ilmu investasi saat ini, namun mereka lagi-lagi sulit untuk mengatur keuangan mereka dan psikologis mengenai tren FOMO dan YOLO.

Dapat diketahui juga faktor dari Gen Z tersebut masih tergolong muda maka mereka belum melewati banyak krisis ekonomi yang akan datang sehingga Gen Z harus banyak belajar untuk bagaimaa cara mengontrol dirinya dan lebih hati-hati dalam keuangan.


           2. Hidup Secukupnya

Gen Z sedang berlomba-lomba dalam penampilan, kehidupan dan tren lain sebagainya sehingga sulit untuk melakukan atau membeli barang sesuai kebutuhannya

Maka dari itu untuk menghindari pemebelian yang boros genarsi muda harus merancang secukupnya dengan membuat list barang kebutuhan pokok sehingga jika masih sisa uangnya bisa menyisihkannya dengan menabung.

Generasi harus bisa berhemat dan bergaya secukupnya jangan berlebihan sebelum mengalami krisis ekonomi.


    3. Mindful Living

Mindful living merupakan kondisi dimana seseorang sadar dengan pilihan, kondisi saat ini dan yang ada disekeliling kita.

Gen Z dikenal dengan gaya hidup yang keren, minimalis, mengerti fashion, dan mengtahui apa saja yang sedang tren terkini sehingga Gen Z harus bisa mengambil pilihan yang dimana iu hal positif untuk kebutuhan pokok.

Karena pada dasarnya Gen Z hanya mementingkan pilihan yang tidak penting dan hanya bisa di perlukan dalam jangka pendek dan tidak bisa digunakan dalam jangka panjang.


 4. Kelola Keuangan

Menurut Henky Saputra yang telah menilai krisis ekonomi yang terjadi saat pandemic Covid-19 dapat menjadi acuan untuk evaluasi dalam mengelola keuangan dengan cara hidup hemat dan mempunyai tabungan.

“Pola pikir ini diharapkan dapat meminimalisir risiko finansial mereka akibat situasi ekonomi yang dapat memburuk kapan saja dan secara mendadak pada masa mendatang,” kata Henky Saputra.

 

Penyebab lainnya yang telah ditelusuri oleh penulis melalui kuesioner yang diisi oleh Gen Z di daerah jabodetabek, terdapat beberapa masalah :

1.      Pernyataan pertama “saya tidak menabung, karena saya lebih memilih membelanjakan kebutuhan saat ini” responden paling tinggi 30,3% menyatakan sangat tidak setuju, kemudian 27,3% menyatakan setuju, kemudian 24,2% menyatakan netral, kemudian 15,2% menyatakan sangat tidak setuju, dan 3% menyatakan sangat setuju. Artinya generasi Z sebagaian besar menyatakan setuju untuk tidak menabung demi membelanjakan kebutuhan saat ini.

2.      Pernyataan “Saya rela menggunakan tabungan saya untuk berbelanja saat diskon bulanan di e-commerce. Contohnya diskon shopee 11.11” responden paling tinggi 36,4% menyatakan tidak setuju, kemudian 27,3% menyatakan setuju, kemudian 21,2% menyatakan netral, kemudian 12,1% menyatakan sangat setuju, dan 3% menyakatakan sangat tidak setuju. Artinya generasi Z masih sebagian besar masih menyatakan sangat setuju dan setuju belum dapat mengontol tabungannya saat ada diskon.

3.      Pernyataan “Saya mampu menahan godaan untuk tidak membeli makanan dan barang favorit saya demi kebutuhan menabung saya” responden paling tinggi 39,4% menyatakan netral, kemudian 24,2% menyatakan setuju dan sangat tidak setuju, kemudian 9,1% menyatakan setuju, dan 3% menyatakan sangat tidak setuju. Artinya generasi Z tidak berani menyatakan setuju atau tidak setuju untuk dapat menahan godaan untuk tidak membeli makanan dan barang favorit sehinnga mereka masih belum bisa mengontrol tabungannya.

4.      Pernyataan “Saya menabung hanya untuk memenuhi kebutuhan konsumtif saya” responden paling tinggi 27,3% menyatakan setuju dan tidak setuju, kemudian 21,2% menyatakan netral, kemudian 15,2% menyatakan sangat tidak setuju, dan 9,1% persen menyatakan sangat setuju. Artinya generasi Z sebagian besar manabung hanya untuk keperluan konsumtif saja sedangkan kebutuhan lainnya tidak.

 

Referensi :

https://www.asumsi.co/post/64392/kenapa-milenial-dan-generasi-z-boros-dan-sulit-menabung/

 

Komentar